Sapi Betina Majir Dan Macam-macam Penyakit Ternak Penyebab Sapi Tidak Bisa Bunting

Posted by Admin

Induk Sapi Siap Melahirkan

Sapi Sulit Bunting (Majir) Bisa Disebabkan Oleh Infeksi Jamur, Parasit, Virus dan Bakteri

Sapi tidak bisa bunting memang bisa disebabkan oleh banyak faktor, bisa faktor internal bisa juga faktor eksternal. Saat calon indukan sapi sudah di IB beberapa kali tetap tidak menunjukkan tanda-tanda kebuntingan belum tentu sapi betina tersebut memang ada gangguan reproduksi sehingga menjadi sapi majir. Pada kasus ini bisa juga disebabkan oleh kurang ahlinya tenaga IB, jeleknya semen yang digunakan untuk IB dll.

Tetapi jika faktor-faktor eksternal penyebab sapi tidak kunjung bunting sudah diatasi dan dilakukan penanganan secara benar namun induk sapi tidak kunjung bunting juga maka bisa jadi sapi tersebut memang mengalami kemajiran. Kemajiran bisa disebabkan oleh faktor penyakit yang disebabkan oleh jamur, virus maupun bakteri. Apa saja jenisnya? Simak penjelasan lengkap berbagai macam penyakit penyebab sapi majir dibawah ini.

Kemajiran Pada Sapi Betina Yang Disebabkan Bakteri “Brucellosis”

Brucellosis biasanya disebabkan oleh Brucella abortus pada sapi, B. melitensis atau B. Ovis pada ruminansia kecil, B. suis pada babi dan B. canis pada anjing. Aborsi, placentitis, epididimitis dan orchitis adalah gejala klinis paling umum pada penyakit brucellosis, walaupun sindrom lain juga pernah dilaporkan. Dampak utama penyakit ini adalah dari segi ekonomi; kematian jarang terjadi kecuali pada janin dan neonatus.

Vaksin yang digunakan dalam program pengendalian brucellosis pada sapi adalah vaksin B. abortus strain 19 (S19) dan vaksin RB 51. Vaksin B. abortus S19 merupakan strain (galur) hidup yang sudah dilemahkan dan memiliki sifat stabil, dan memberikan proteksi terhadap infeksi 70-80%, namun vaksin ini menyebabkan permanen antibodi sehingga menyebabkan reaksi positif palsu pada uji serologis terhadap infeksi Brucella.

Oleh karena itu digunakan vaksin RB 51 yang merupakan mutan kasar dari B. abortus virulen starin 2308 (S2308). Ternak yang divaksin dengan RB 51 tidak terdeteksi dengan uji serologi standar untuk diagnose brucellosis dan aman apabila diberikan pada sapi betina bunting. Hanya saja vaksin RB 51 masih harus impor dan harganya relatif mahal daripada vaksin S 19 yang sudah dapat diproduksi oleh Pusat Veteriner Farma (PUSVETMA).
Brucellosis adalah penyakit infeksi bakteri Brucella yang disebarkan dari hewan ke hewan lain dan bahkan ke manusia, penularan kepada manusia umumnya melalui konsumsi susu, terutama susu yang tidak dipasteurisasi, atau produk olahan susu lainnya. Meski jarang terjadi, brucellosis juga bisa menyebar melalui udara atau kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi.
Beberapa spesies Brucella juga terdapat dalam populasi satwa liar. Hewan liar yang bertindak sebagai reservoir seperti babi liar, banteng, rusa dan kelinci eropa menyulitkan upaya pemberantasan B. abortus dan B. suis. Isolat brucella dari Mamalia laut baru-baru ini telah ditemukan dalam banyak spesies pinnipeds dan cetacean, dan ada kekhawatiran bahwa organisme ini mungkin memiliki dampak yang merugikan pada beberapa spesies.
Brucella abortus dapat disebarkan melalui konsumsi produk peternakan yang sudah terkontaminasi seperti air susu, selain itu juga melalui feces yang terkontaminasi terutama dari ternak sesudah melahirkan atau dengan kontak langsung pada waktu kawin dengan hewan yang terinfeksi. Sapi yang terinfeksi dengan mudah dapat menularkan pada saat sapi melahirkan, karena bakteri yang dikeluarkan pada saat itu mampu menularkan sampai dengan jumlah 600.000 ekor. Selain itu penularan dapat terjadi juga melalui saluran pencernaan dan mukosa atau kulit yang luka. Pada sapi dan kambing, penularan melalui perkawinan sering terjadi, sehingga pemacek yang merupakan reaktor harus dikeluarkan.
B. abortus, B. melitensis B. suis dan B. canis biasanya ditularkan antara hewan melalui kontak dengan plasenta, janin, cairan janin dan vagina dari kotoran hewan yang terinfeksi. Hewan menularkan penyakit setelah aborsi atau setelah melahirkan.Meskipun ruminansia biasanya tanpa gejala setelah aborsi pertama, mereka dapat menjadi carrier kronis, dan terus menyebarkan Brucella melalui susu dan sekresi rahim pada kehamilan berikutnya. Anjing juga bisa terjangkit B. canis pada kehamilan berikutnya, dengan atau tanpa gejala. Masuknya kuman ke dalam tubuh terjadi melaluikonsumsi dan melalui selaput lendir, kulit yang luka dan juga memungkinkan terjadi pada kulit yang utuh.

Patogenesisnya permulaan infeksi brucellosis terjadi pada kelenjar limfe supramamaria. Pada uterus, lesi pertama terlihat pada jaringan ikat antara kelenjar uterus mengarah terjadinya endometritis ulseratif, kotiledon kemudian terinfeksi disertai terbentuknya eksudat pada lapisan allantokhorion. Brucella banyak terdapat pada vili khorion karena tingginya erytritol disana yang merupakan makanan dari kuman Brucella, semakin banyak bakteri disana terjadi penghancuran jaringan, seluruh vili akan rusak yang menyebabkan kematian fetus dan abortus. Jadi kematian fetus adalah gangguan fungsi plasenta disamping adanya endotoksin. Fetus biasanya tetap tinggal di uterus selama 24-72 jam setelah kematian. Selaput fetus menderita oedematous dengan lesi dan nekrosa.

Tidak ada pengobatan praktis untuk sapi terinfeksi atau babi, tetapi pengobatan antibiotik jangka panjang kadang-kadang berhasil pada anjing yang terinfeksi. Beberapa anjing kambuh setelah pengobatan. Antibiotik juga telah berhasil menyembuhkan dengan sukses pada beberapa domba jantan, tetapi biasanya tidak layak secara ekonomis. Kesuburan dapat tetap rendah bahkan jika organisme tersebut dieliminasi. Pada kuda dengan fistulous withers atau poll evil, bursa yang terinfeksi mungkin perlu diangkat melalui pembedahan.

Pada sapi gejala klinis yang utama ialah keluron menular yang dapat diikuti dengan kemajiran temporer atau permanen dan menurunnya produksi susu. Keluron yang disebabkan oleh brucella biasanya akan terjadi pada umur kebuntingan antara 5 sampai 8 bulan. Sapi dapat mengalami keluron satu, dua atau tiga kali, kemudian memberikan kelahiran normal, sapi terlihat sehat walaupun mengeluarkan cairan vaginal yang bersifat infeksius. Cairan janin yang keluar waktu terjadinya keluron berwarna keruh dan dapat merupakan sumber penularan penyakit.

Pada kelenjar susu tidak menunjukkan gejala klinis meskipun di dalam susunya didapatkan bakteri brucella. Hewan jantan memperlihatkan gejala epididimitis dan orchitis. Gejala ini terutama terlihat pada babi yang dapat mengakibatkan kemajiran. Selain gejala-gejala di atas sering pula ditemukan kebengkakan pada persendian lutut (karpal dan tarsal). Masa inkubasi penyakit ini belum diketahui dengan pasti. Pada sapi berkisar antara 2 minggu – 8 bulan atau lebih lama.

Perubahan yang terlihat adalah penebalan pada plasenta dengan bercak-bercak merah pada permukaan lapisan chorion. Cairan janin terlihat keruh berwarna kuning kecoklatan dan kadang-kadang bercampur nanah. Ada kalanya pedet mati dengan perkembangan yang tidak normal.

Diagnosa brucellosis pada hewan didasarkan pada isolasi dan identifikasi bakteri brucella, uji serologis, dan gejala klinis. Dugaan adanya brucellosis timbul apabila ditemukan terjadinya keluron dalam kelompok ternak yang diikuti menghilangnya penyakit itu. Keluron biasanya ditemukan pada trimester terakhir atau umur pedet 6 bulan atau lebih.

ELISA merupakan salah satu cara untuk mendeteksi brucellosis pada sapi, dan lebih praktis serta sensitif untuk digunakan sebagai uji diagnostik. Saat ini telah berkembang uji diagnostic brucellosis dengan metoda teknologi Biomoleculer, yaitu Polimerase Chain Reaktion (PCR) terutama di daerah di mana ada program vaksinasi dengan strain 19. Kit diagnostic brucellosis yang lebih praktis penggunaannya di lapangan dan tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama dengan sampel darah atau serum juga telah dikembangkan.
Penyakit reproduksi pada ternak dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar bagi petani khususnya dan masyarakat luas pada umumnya. Karena selain merusakkan kehidupan ternak, dan mneghambat perkembanganpopulasi juga dapat menular kepada manusia.Diantara gangguan reproduksi yang cukup mempengaruhi produktivitas ternak yaitu kemajiran pada ternak betina. Kemajiran ternak betina bisa disebabkan oleh infeksi penyakit ataupun non infeksi seperti gangguan hormon, kelainan bawaan, patologi kelamin dan pakan yang kurang nutrisi.Kerugian ekonomi akibat serangan penyakit dapat ditekan jika diagnosa, pencegahan, ataupun pengobatan dilakukan sedini mungkin, secara cepat dan tepat agar penyakit tidak menyebar ke ternak lain. Dan keberhasilan reproduksi akan sangat mendukung peningkatan populasi ternak.
Kemajiran ternak betina yang disebabkan oleh infeksi-infeksi penyakit yang umum dan sering terjadi di lapangan. Diantaranya penyakit infeksi yang disebabkan oleh jamur yang sering oleh aspergillus fumigatus, virus seperti IBR, bakteri seperti Brucellosis, dan parasit seperti Trichomoniasis.Pada umumnya pencegahan dapat dilakukan dengan sanitasi kandang yang bagus, vasksinasi, isolasi sedini mungkin jika ada hewan yang terserang infeksi penyakit kemajiran dan pemberian nutrisi yang baik pada hewan yang bunting.
Ada dua strategi pemberantasan berdasarkan tingkat kejadiannya yaitu apabila prevalensi reaktor ≥ 2% dengan kategori tertular berat, maka metode pemberantasannya dengan cara vaksinasi. Sedangkan pada daerah kategori tertular rendah (prevalensi < 2%), ditetapkan dengan teknik uji dan potong bersyarat (test and slaughter).
loading...
Usaha pencegahan dan pengendalian brucellosis sapi pada umumnya terfokus pada pemberantasan penyakit dengan pengendalian populasi sapi bebas dari agen penyakit. Oleh karena itu semua usaha Dinas Peternakan diarahkan pada pencegahan berpindahnya dan menyebarnya agen penyakit serta mencegah penderita baru (Siregar, 2000). Pada prinsipnya vaksinasi sapi betina muda dengan vaksin inaktif (strain 19) perlu dilakukan pada wilayah dengan prevalensi brucellosis tinggi, dengan tujuan sementara untuk menurunkan jumlah keguguran (Siregar,2000).

Kemajiran Yang Disebabkan Infeksi Jamur

Disgenesis reproduksi mencakup kegagalan reproduksi tanpa memandang penyebabnya maupun periode kebuntingan sewaktu terjadi kehilangan konseptus. Kehilangan konseptus yang terjadi sejak pembuahan sel telur sampai diferensiasi embrional (kurang lebih 45 hari) disebut kematian embrional. Kehilangan konseptus yang terjadi selama periode foetal yaitu dari saat diferensiasi sampai kelahiran, dibagi atas abortus dan kelahiran prematur. Abortus atau keluron adalah kematian fetus sebelum akhir masa kebuntingan dengan fetus yang belum sanggup hidup, sedangkan kelahiran prematur adalah pengeluaran fetus sebelum akhir masa kebuntingan dengan fetus yang sanggup hidup sendiri di luar tubuh induk.

Hampir semua abortus mikotik pada sapi disebabkan oleh dua kelompok jamur. Sekitar 60 sampai 80 persen disebabkan oleh Aspergillus spp dan kebanyakan adalah Aspergillus fumigatus. Jenis Mucorales bertanggung jawab atas keguguran mikotik selebihnya. Kejadian abortus mikotik bervariasi dari 0,5 sampai 16 persen dari semua abortus pada sapi.

Aspergillus terdapat dimana-mana dan umumnya bersifat saprofit. Jamur memasuki tubuh hewan melalui pernapasan dan makanan. Spora jamur kemudian dibawa ke plasenta melalui aliran darah dari laesio lain pada saluran pencernaan. Hasil penularan ini secara gradual menyebabkan plasentitis, hambatan pemberian makanan pada saluran fetus, kematian fetus dan abortus dalam waktu beberapa Minggu atau beberapa bulan kemudian. Kebanyakan abortus terjadi pada bulan kelima sampai ketujuh masa kebuntingan, tetapi dapat berlangsung dari bulan keempat sampai waktu partus. Fetus umumnya dikeluarkan dalam keadaan mati, tetapi pada beberapa kasus terjadi kelahiran prematur atau fetus lahir pada waktunya dalam keadaan hidup tapi lemah dan mati segera sesudah lahir.

Abortus mikotik umumnya ditandai oleh perubahan-perubahan nyata pada selaput fetus, tapi lebih nyata daripada perubahan-perubahan abortus karena brusellosis dan vibriosis. Chorion tebal, oedematus, seperti kulit dan neurotik. Laesio utama terdapat pada plasentoma. Karunkel dan kotiledon sangat membesar, membengkak, oedematus dan nekrotik.

Kotiledon yang nekrotik memperlihatkan suatu pusat yang kelabu suram dikelilingi oleh daerah hemoragika dan bertaut erat dengan khorion yang nekrotik. Di dalam ruang utero khorion umumnya terdapat cairan kemerah-merahan dengan kepingan-kepingan nanah. Jamur menyebar melalui selaput fetus ke dalam cairan foetal. Foetus dapat tampak normal atau, pada 30 persen kasus jamur dapat bertumbuh pada kulit dalam bentuk bercak-bercak seperti pada ichtyosis congenital atau ringworm. Cairan serosa berwarna jerami dapat ditemukan pada jaringan foetal atau rongga tubuhnya. Jamur dapat diisolasi dari isi lambung, dari chorion, atau kotiledon plasenta yang terserang. Penyembuhan pada kasus yang parah cukup lambat dan tertunda atau dapat diikuti oleh kemajiran permanen.

Diagnosa dikuatkan oleh pemeriksaan mikroskopik terhadap jamur dari plasenta atau foetus, pemeriksaan histopatologik terhadap jaringan plasental atau foetal dan oleh kultur pada media buatan.

Kemajiran Yang Disebabkan Virus “Infectious Bovine Rinotracheitis (IBR)”

Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus yang dapat menyerang alat pernafasan bagian atas dan alat reproduksi ternak sapi. Etiologi Infectious Bovine Rhinotracheitis disebabkan oleh Bovine herpesvirus-1 (BHV-1) .
Gejala klinis dari penyakit ini adalah gangguan pernafasan, gejala syaraf dan gangguan reproduksi merupakan gejala klinis yang utama. Biasanya penyakit ini menyerang ternak sapi yang ditandai dengan gejala demam tinggi 40,5 ± 42 °C, nafsu makan menurun dan dijumpai leleran hidung, hipersalivasi, produksi air susu menurun disertai dengan kekurusan (Kurniadhi, 2003).

Sindrom berupa demam, vulvovaginitis, repeat breeders, balanoposthitis, metritis terdapat pada gangguan reproduksi, bahkan dapat menjadi abortus dan kematian pada anak sapi. Penularan IBR terjadi karena kontak langsung, terutama pada kelompok ternak yang dikandangkan terlalu padat, sedangkan, penularan bentuk veneral terjadi pada waktu perkawinan atau inseminasi buatan (IB) (Sudarisman, 2007). Kontaminasi pada semen merupakan hal yang sangat potensial dalam pengembangan usaha peternakan, karena virus IBR dapat menyebar lewat kegiatan inseminasi buatan dan menyebabkan berbagai gangguan pada saluran reproduksi betina termasuk di dalamnya endometritis, infertilitas dan keguguran.

Masa inkubasi secara alami berlangsung selam 21 hari. Virus masuk ke dalam aliran darah setelah terjadinya penularan (viremia), kemudian diikuti dengan timbulnya kerusakan-kerusakan sel epitel pada mukosa saluran pencernaan. Pada hewan yang buting virus ini menyebabkan plasentitis yang diikuti oleh infeksi pada fetus, kemudian diikuti abortus atau kelahiran anak yang abnormal
Masa inkubasinya virus ini adalah 4-6 hari, tetapi pada infeksi buatan masa ini lebih pendek. Penyakit ini bermanifestasi dalam 3 bentuk : 1) Bentuk respirasi, 2) Bentuk alan kelamin dan 3) Bentuk konjunktivitis. Pencegahan dilakukan dengan pemeriksaan awal terhadap sapi-sapi impor dari daerah atau negara lain yang tertular penyakit ini serta perlu benar-benar bebas dari caplak dan bebas antibodi terhadap virus IBR. Sedangkan pengobatan penderita IBR umumnya hanya bersifat simptomatik (Anonimous, 2008).

Penyakit ini dapat dicegah dengan cara :
1. Menghindarkan faktor resiko yang ada pada inseminasi buatan. Memisahkan hewan yang serologik positif dan yang negatif. Hambat impor hewan yang serologik positif, embrio dan semen yang telah terkontaminasi virus BHV-1 untuk tujuan pembibitan ternak ataupun program inseminasi buatan.
2. Mempertahankan kelompok ternak yang bebas BHV-1, melakukan uji serologik dan isolasi virus dua kali setahun pada ternak-ternak yang ada pada pusat pembibitan dan pusat inseminasi buatan terhadap adanya virus BHV-1. Keluarkan hewan yang positif BHV-1 berdasarkan isolasi virus dan kelompok hewan yang serologik positif dapat dilakukan vaksinasi, terutama dengan vaksin yang mati guna mencegah infeksi laten. Hindarkan penggunaan vaksin hidup. Penggunaannya dapat dilakukan bila ada outbreak pada beberapa kelompok hewan serta pengawasan hewan yang telah divaksinasi harus lebih ketat.
3. Tidak mentolerir adanya pejantan yang serologic positif terhadap BHV-1 pada Balai Inseminasi Buatan (BIB). Hal ini merupakan jaminan terhadap produksi semen beku yang dihasilkan. Reputasi BIB sangat tergantung dari bebasnya pejantan dari penyakit menular
Hal lain yang dapat dilakukan dalam program pemberantasan penyakit ini adalah mengontrol terjadinya infeksi dengan mengembangkan pengebalan ternak akibat infeksi alamataupun akibat vaksinasi.Berdasarkan akan efektifitas dari imunisasi aktif setelah terinfeksi secara alami, kini vaksin digunakan untuk melakukan program kontrol penyakit IBR.

Vaksin yang digunakan dapat dalam bentuk “modified live virus vaccines”dan “inactivated vaccines”. Kedua vaksin ternyata sama-sama menghasilkan antibodi humoral. Beberapa kelemahan terjadi dalam penggunaan vaksin IBR. Vaksin yang diberikan secara intranasal akan menghasilkan interferon lokal dan antibodi lokal. Sub unit vaksin kini juga telah banyak digunakan akan tetapi beberapa laporan menunjukkan bahwa subunit vaksin tidak dapat mencegah infeksi klinis akibat IBR.

Beberapa vaksin hidup berdampak pada terjadinya keguguran/abortus dan dapat mengakibatkan endometritis. Untuk menghindari hal tersebut, beberapa negara menggunakan vaksin hidup intranasal dan ini masih ada yang melaporkan kemungkinan menjadi ganas kembali. Vaksin inactive/mati banyak yang melaporkan derajat kekebalannya tidak tinggi kecuali dengan penggunaan adjuvant yang baik (Sudarisman, 2003).

Kemajiran Yang Disebabkan Parasit “Trichomoniasis”

Trichomoniasis adalah penyakit venereal yang disebabkan oleh Trichomonas foetus. Abortus terjadi antara minggu pertama dan minggu ke-16 masa kebuntingan. Penularan dari sapi betina ke sapi yang lain terjadi melalui pejantan yang mengawininya. Gejala penyakit ini ditandai dengan siklus estrus yang pendek tidak teratur, dan pada umumnya menyebabkan infertilitas yang bersifat sementara. Sering sekali ditemui abortus muda (umur 4 bulan atau kurang) dan kejadian pyometra.

Patogenesisnya pada vagina trichomonisis menimbulkan vaginitis kataralis, yang mukosa vaginanya berwarna kemerahan dan basah. Pada infeksi yang kronis didapatkan udemaa pada vulva. Pada uterus infeksi T. fetus menyebabkan endometritis kataralis yang dapat berubah menjadi purulen. Apabila sapi bunting, keradangan pada kotiledon mengakibatkan kemtian dan maserasi fetus atau abortus, kemudian disusul terjadinya piometra. Pada kasus tersebut corpus luteum gravidatum tetap berkembang dan disebut corpus luteum persisten. Plasenta mengalami penebalan dilapisi sejumlah kecil gumpalan eksudat berwarna putih kekuningan. Pada kotiledon sedikit nekrosis.

Penanggulangan penyakit ini dapat dilakukan dengan pengobatan antibiotik secara lokal pada betina terinfeksi. Sedangkan pada pejantan terinfeksi dilakukan pembilasan kantong penis dengan antibiotik atau antiseptika ringan cukup membinasakan T. fetus. Disamping itu pengolahan semen yang digunakan untuk IB dengan baik merupakan cara pemberantasan Trichomoniasis. Semen yang beredar secara komersial dapat diberi perlakuan khusus dengan pemberian antibiotik untuk menghindari ancaman infeksi sapi betina yang di IB. pengobatan terhadap Trichomonisis dapat berhasil secara efektif dengan menggunakan antibiotik spektrum luas baik untuk pejantan maupun betina. Usaha lain yang dapat dilakukan adalah isolasi dan memberikan waktu istirahat untuk kegiatan seksual.


Referensi
  • Anonimus. 2008. Penularan Kongenital Penyakit Infectious Bovine Rhino Tracheitis pada Sapi dan Kerbau di Indonesia http://peternakan.Iitbang. deptan.go.id.
  • http://animal-health.library4farming.org, di dowload jumat 10 Desember 2010 pukul 15.00 wita
  • http://budidaya-di.blogspot.com/2010/02/jamur-penyebab-abortus-pada-sapi.html, di dowload jumat 10 Desember 2010 pukul 15.00 wita
  • http://duniaveteriner.com, di dowload jumat 10 Desember 2010 pukul 15.00 wita
  • http://en.wikipedia.org/wiki/Mucorales, di dowload jumat 10 Desember 2010 pukul 15.00 wita
  • Kurniadhi. P. 2003. Teknik pembuatan biakan sel Primer Ginjal Janin Sapi Untuk Menumbuhkan Virus Infectious Bovine Rhinotracheitis. Bogor
  • Sudarisman, 2003. Penularan Kongenital Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR) pada Sapi dan Kerbau di Indonesia. Wartazoa Vol. 17 No. 1 Th. 2007
  • Sudarisman, 2003. Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR) pada Sapi di Lembaga Pembibitan Ternak di Indonesia. Wartazoa Vol. 13 No. 3 Th. 2003.

Sumber: https://dokterternak.wordpress.com dan sumber lainnya

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

1001 Cara dan Tips Updated at: 09:14
loading...