Mengenal Penyakit Antraks, Gejala, Penyebab dan Cara Pengendaliannya

Posted by Admin

Penyebab Penyakit Antraks Dan Cara Penularan Penyakit Antraks

Penyakit anthrax adalah infeksi bakteri serius yang disebabkan bakteri Bacillus anthracis. Pada keadaan normal, bakteri menghasilkan spora yang tidak aktif (dorman) dan hidup di tanah. Saat spora masuk ke dalam tubuh binatang atau manusia, spora menjadi aktif. Anthraks adalah penyakit infeksi yang menular dari hewan ternak. Seseorang dapat terkena penyakit anthraks apabila menyentuh atau memakan daging hewan yang terkena anthraks. Anthraks merupakan penyakit serius dan jarang. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis. Sampai saat ini tidak ada penelitian yang menunjukkan bahwa bakteri penyebab antraks dapat menular antar manusia.

Gejala yang Timbul Saat Ternak Sapi Terserang Antraks

Gejala atau Tanda tanda penderita Anthrax yaitu sebagai berikut:
  • Kematian mendadak dan adanya perdarahan di lubang-lubang kumlah (lubang hidung, lubang anus, pori pori kulit).
  • Ternak mengalami kesulitan bernapas, demam tinggi, gemetar, berjalan sempoyongan, kondisi lemah, ambruk dan kematian secara cepat.
  • Pada kuda gejalanya biasanya kronis dan menyebabkan kebengkakan pada tenggorokan.
  • Pada manusia bisa terjadi tukak atau luka pada kulit dan kematian mendadak.

Pencegahan Penyakit Anthrax

  • Dilakukannya vaksinasi yang teratur tiap tahun di daerah wabah.
  • Pengawasan yang ketat dan teratur terhadap lalulintas atau keluar masuknya ternak.
  • Mengasingkan ternak yang sakit atau diduga sakit.
  • Bangkai ternak yang saki atau diduga sakit tidak boleh dibuka, namun harus dibakar atau dikubur dalam-dalam.
Vaksinasi Antraks
Vaksinasi adalah cara yg paling tepat untuk pencegahan dan harus rutin dilakukan. Perlu disediakan vaksin dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan daerah endemis dan area sekitarnya. Agar kemunculan kembali antraks pada masa mendatang dapat dicegah.

Evaluasi atas vaksinasi antraks telah menunjukkan vaksinasi mampu mencegah munculnya kembali kasus anthraks. Wilayah-wilayah endemis anthraks sebenarnya wajib mendapatkan vaksinasi antraks secara rutin. Sayangnya coverage vaksinasi antraks saat ini masih sangat rendah. Ternak-ternak yang telah divaksin seharusnya diberi chip untuk memudahkan monitoring.

Hasil pelaksanaan vaksinansi (pasca vasinasi) perlu dilakukan monitoring, namun terkendala dengan ketersediaan antigen anthraks. Dalam hal ini BB Litvet menyatakan diri siap membantu untuk penyiapan antigen utk Elisa, serum positif dan cut-off-nya

Pengendalian
loading...
Pengendalian penyebaran wabah anthraks dilakukan melalui pengawasan lalu lintas ternak. Ternak diijinkan keluar atau masuk suatu daerah harus berasal dari daerah yang tidak ada laporan kasus antraks dalam 20 hari terakhir. Ternak harus memiliki Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH), dan tidak ada gejala klinis pada hari pengiriman.

Untuk ternak yang divaksinasi boleh melintas setelah minimal 20 hari pasca vaksinasi dan maksimal 6 bulan pasca vaksinasi. Sampai saat ini sayangnya tidak ada pemeriksaan laboratorium untuk antraks pada hewan hidup secara scientific base.
Pengobatan Peenyakit Anthrax PadaTernak Sapi atau ternak Ruminansia
a. Memberikan antibiotika berspektrum luas.
  • Procain penisilin G, dosis untuk ruminansia besar (sapi, kerbau): 6.000 – 20.000 IU/Kg berat badan , sedang untuk ruminansia kecil (kambing, domba) : 20.000 – 40.000 IU/Kg berat badan.
  • Streptomycin, dosis untuk ruminansia besar: 5 – 10 mg/Kg BB, sedang untuk ruminansia kecil : 50 – 100 mg/Kg BB.
  • Kombinasi antara Procain Penisilin G dengan Streptomycin.
  • Oksitetrasiklin , untuk ruminansia besar: 50 mg/10 Kg BB, sedang untuk ruminansia kecil: 50 mg/5 Kg BB.
b.Memberikan antiserum yang tinggi titernya ( 100 – 150 ml )
Anthrax adalah penyakit zoonosis (suatu penyakit yang bisa ditularkan antara hewan dan manusia) yang sangat berbahaya, oleh sebab itu ternak  yang menderita Anthrax dilarang keras untuk dipotong.
Pemberantasan dan pengendalian antraks harus dilakukan lintas institusi dan sektor. Perlu koordinasi antara Kementerian Kesehatan untuk penyediaan obat-obatan, Kementerian Pertanian (penanganan disposal), dan polisi untuk penegakan hukum dan membantu pengawasan lalulintas ternak.

Mengenal Daerah Endemis Antraks

Pedoman koordinasi Kejadian Luar Biasa (KLB) anthraks sedang dibuat oleh Komnas Zoonosis. Masih munculnya penyakit anthraks dikarenakan belum ada koordinasi yang matang, seperti penutupan wilayah tidak langsung dilakukan. Komitmen pemeritah pusat dan pemerintah daerah sangat penting tetapi peran masyarakat juga harus ditingkatkan dengan pemberdayaan

Saat ini 11 provinsi di Indonesia telah tertular antraks sehingga ditetapkan sebagai daerah endemis yaitu DKI Jakarta (Jakarta Selatan), Jawa Barat (Kota Bogor, Kab. Bogor, Kota Depok), Jawa Tengah (Kota Semarang, Kab. Boyolali), Nusa Tengara Barat (Sumbawa, Bima), Nusa Tenggara Timur (Sikka, Ende), Sumatra Barat, Jambi, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan (Makassar, Wajo, Gowa, Maros), Sulawesi Utara dan Papua.

Pada 2016 muncul kembali wabah antraks di Desa Malimpung, Kecamatan Patampanua, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Kasus meluas hingga Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Wabah antraks pada sapi terkini (April 2016) dilaporkan di Desa Ulapato A Kecamatan Telaga, Desa Lupoyo, dan Pentadio Barat Kab Gorontalo dan Kab Bone-Bolango Provinsi Gorontalo.

Kedua daerah itu sebelumnya belum pernah ada laporan kasus antraks. Karena awamnya masyarakat terhadap penyakit ini, maka kemudian diikuti dengan penularan antraks pada manusia sehingga menjadi kejadian luar biasa (KLB).

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

1001 Cara dan Tips Updated at: 00:25
loading...