Daun Kratom, Herbal Penghilang Rasa Sakit Yang Bisa Disalahgunakan Menjadi Obat Psikotropika
Peneliti telah mengkonfirmasi sifat adiktif dari kratom dan menemukan bahwa penggunaan kratom secara berlebih dapat menyebabkan masalah dengan kemampuan belajar, memori, dan kemampuan kognitif lainnya. Ketergantungan kratom juga dapat menyebabkan efek samping seperti mual, berkeringat, tremor, ketidakmampuan tidur atau insomnia, dan halusinasi. Mengutip laman badan hukum narkoba di Amerika Serikat (AS) atau Drug Enforcement Administration (DEA), kratom juga disebut dengan nama biak, kakuam, ithang, dan thom.xBelakangan ini kratom mulai disalahgunakan sebagai narkoba karena efeknya yang mirip dengan opium dan kokain.Di Indonesia, kratom telah dimasukkan ke dalam daftar New Psychoactive Substances (NPS) oleh Laboratorium Badan Narkotika Nasional (BNN). Hanya saja, kratom belum dicantumkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 13 tahun 2014.Tidak semua orang mengetahui tentang kratom; meskipun kratom telah banyak digunakan di Kalimantan Barat. Daun kratom yang nama latinnya Mitragyna speciosa (dari keluarga Rubiaceae), dikenal juga di Indonesia dengan nama daun purik atau ketum, dan telah lama digunakan sebagai obat herbal penghilang rasa sakit; bisa dimakan mentah, diseduh seperti teh, atau diubah menjadi kapsul, tablet, bubuk, dan cairan.
Efek Daun Kratom Pada Manusia
Mengunyah daun kratom biasanya dilakukan untuk menghasilkan energi seperti saat mengonsumsi kafein, atau sebagai obat tradisional untuk penyakit, mulai dari diare sampai rasa sakit pada tubuh.Dalam dosis rendah, kratom dapat memberikan efek stimulan. Kratom dapat membuat seseorang merasa memiliki lebih banyak energi, lebih waspada, dan lebih bahagia. Bahan aktif utama kratom adalah alkaloid mitraginin dan 7-hydroxymitragynine yang telah terbukti dapat memberikan efek analgesik, anti-inflamasi, atau pelemas otot; sehingga kratom sering digunakan untuk meredakan gejala fibromyalgia. Fibromyalgia adalah intoleransi terhadap stres dan rasa sakit yang biasanya ditandai dengan nyeri pada tubuh, sulit tidur, dan kelelahan.
Namun, jika kratom digunakan dalam dosis tinggi (sekitar 10 hingga 25 gram atau lebih), kratom dapat memberikan efek sedatif seperti narkotika. Bahkan Drug Enforcement Administration (DEA) mengatakan bahwa konsumsi kratom berlebih dapat menyebabkan gejala psikotik dan kecanduan psikologis.
Bahaya penyalahgunaan kratom
Bisa Menyebabkan KetergantunganKetergantungan kratom dapat terjadi saat kratom digunakan secara teratur untuk jangka waktu tertentu. Jika konsumsi kratom dihentikan setelah terjadi ketergantungan, maka dapat memicu gejala withdrawal atau lebih dikenal sebagai sakau, di antaranya adalah nyeri otot dan tulang, tremor, mual, kelelahan, pilek, perubahan suasana hati, halusinasi, delusi, insomnia, bahkan depresi.
Interaksi negatif saat dicampur dengan obat lainnya
Oleh karena bentuk dari olahan kratom yang beragam seperti bentuk kapsul, tablet, bubuk, atau cairan, maka kratom dapat dengan mudah dikombinasikan dengan obat/campuran lainnya. DEA menyebutkan bahwa mencampur kratom dengan zat psikoaktif lainnya dapat sangat berbahaya, karena dapat menimbulkan interaksi negatif satu sama lain, di antaranya adalah kejang-kejang.
Resiko Kemungkinan Terjadi Overdosis
Produk kratom banyak dijual tanpa disertai keterangan batas dosis yang dianjurkan, sehingga meningkatkan risiko terjadinya overdosis kratom. Gejala overdosis kratom di antaranya adalah kelesuan, tremor, mual, delusional, dan halusinasi. Selain itu, penggunaan dosis tinggi kratom untuk waktu yang lama dapat menyebabkan kerusakan hati dan gagal ginjal.
loading...
Apakah daun kratom legal untuk digunakan?
Di Indonesia, kratom telah dimasukkan ke dalam daftar New Psychoactive Substances (NPS) oleh Laboratorium Badan Narkotika Nasional (BNN). Hanya saja, kratom belum dicantumkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 13 tahun 2014.Kratom dianggap dapat memberikan dampak seperti opiat dan kokain. Dan meskipun telah dimasukkan ke dalam NSP, peredaran kratom belum diatur oleh undang-undang, sehingga legalitasnya pun masih dipertanyakan. Bahkan hingga saat ini, masih banyak pro kontra mengenai kratom, baik di Indonesia maupun di luar negeri.
Dikutip dari cnnindonesia, The Washington Post sempat mempublikasikan tulisan mengenai penelusuran mereka tentang bagaimana orang-orang merasakan pengaruh, sensasi, maupun efek yang dialami saat mengonsumsi kratom. Literatur yang dijadikan sebagai sumber rujukan adalah situs Erowid.org.
Erowid.org dikenal sebagai situs ensiklopedia online yang khusus mengupas secara rinci tentang zat-zat psikoaktif yang terkandung di berbagai medium. Profil dua pendirinya, yang bernama alias Earth dan Fire, sempat dimuat dalam ulasan mendalam di The New Yorker tahun lalu, bertepatan dengan ulang tahun dua dekade situs mereka.
Di situs Erowid, pengguna berbagai jenis zat psikoaktif mulai dari kafein hingga heroin bisa membagikan pengalaman pribadi saat berada di bawah pengaruh substansi yang mereka konsumsi.
Testimoni para pengguna itu akan mendapat kurasi dari moderator, diklasifikasikan ke dalam sub-kategori, sebelum kemudian dipublikasikan di Erowid.org. Laporan-laporan tersebut biasa dijadikan sebagai rujukan para peneliti maupun para pencari obat yang ingin mengetahui lebih detail mengenai informasi dari suatu substansi.
Khusus untuk kratom, sedikitnya ada 290 testimoni berupa laporan detail pengalaman pengguna yang tercatat masuk dan dimuat di Erowid sejak tahun 2001. Ratusan laporan pengguna kratom itu menjadi rujukan subjek penelitian yang dipublikasikan oleh Marc Swogger dan beberapa koleganya di jurnal Psychoactive Drugs tahun lalu.
Swogger dalam jurnal penelitiannya mencatat dan mengklasifikasikan laporan pengalaman pengguna ke dalam kategori positif dan negatif. Klasifikasi itu kemudian di sub-kategorikan ke dalam sensasi pengalaman seperti euforia, relaks, mual, gatal-gatal, dan sebagainya.
Hasil dari pengklasifikasian Swogger menunjukkan bahwa mayoritas pengguna kratom (30,4 persen) merasakan pengalaman relaks dan nyaman, serta euforia ketika mengonsumsinya dengan dosisi tinggi. "Sejumlah pengguna menggambarkan efek yang mereka alami itu sama seperti yang mereka rasakan ketika mengonsumsi candu," ujar Swogger.
Sementara itu komentar negatif paling banyak atas kratom adalah sekitar 16 persen pengguna mengaku merasakan mual-mual. Di luar itu ada pula yang mengaku kerap menggigil dan berkeringat setiap kali mengonsumsi kratom.
Catatan penting dari penelitian tersebut adalah, di setiap pengalaman positif atas sebuah substansi pasti akan selalu ada pengalaman negatif yang menyertainya. Namun rasio perbandingan efek pengalaman baik dan buruk dari kratom terbilang lebih kecil ketimbang ganja, heroin, kokain, apalagi alkohol.
Kontroversi Kratom Sebagai Obat
Kontroversi kratom timbul karena efek samping yang dapat ditimbulkannya. Penggunaan kratom secara terus menerus dapat menyebabkan kecanduan, anoreksia, dan insomnia. Bahkan dalam dosis rendah pun, kratom dapat menyebabkan efek samping seperti halusinasi dan anoreksia.Peneliti telah mengkonfirmasi sifat adiktif dari kratom dan menemukan bahwa penggunaan kratom secara berlebih dapat menyebabkan masalah dengan kemampuan belajar, memori, dan kemampuan kognitif lainnya. Ketergantungan kratom juga dapat menyebabkan efek samping seperti mual, berkeringat, tremor, ketidakmampuan tidur atau insomnia, dan halusinasi.
Karena hingga saat ini belum dikeluarkan aturan mengenai kratom khususnya mengenai peredaran, dampak, dan penggunaannya, maka Anda perlu mengawasi anggota keluarga Anda mengingat kratom masih dijual secara bebas, terlebih manfaat kratom juga masih dipertanyakan secara medis.
Diolah dari berbagai sumber
loading...