Kegunaan Sorgum Sebagai Bahan Pangan, Pakan Ternak dan Manfaatnya Bagi Kesehatan
Sorgum adalah tanaman dari keluarga rumput-rumputan, masih satu keluarga dengan padi, jagung dan gandum. Biji sorgum memiliki kandungan karborhidrat tinggi sehingga dimanfaatkan sebagai makanan pokok oleh lebih dari 500 juta penduduk bumi. Namun sebagian besar produksi sorgum digunakan untuk pakan ternak.
Sorgum termasuk dalam tanaman serealia tropis tapi bisa tumbuh dalam rentang iklim yang luas. Tanaman ini telah dibudidayakan secara meluas di semua benua. Negara penghasil utamanya antara lain Amerika Serikat, Nigeria, Mexico dan India.
Tepung biji sorgum mempunyai kandungan tak kalah dengan tepung serealia yang lain, seperti jagung, gandum, dan barley. Biji sorgum mengandung tiga jenis karbohidrat yaitu, pati, gula terlarut, dan serat. Kandungan gula terlarut pada sorgum terdiri dari sukrosa, glukosa, fruktosa dan maltosa. Sorgum juga mengandung serat tidak larut air atau serat kasar dan serat pangan, masing-masing sebesar 6,5% - 7,9% dan 1,1% - 1,23%. Kandungan protein pun seimbang dengan jagung, kandungan protein sorgum adalah sebesar 10,11% sedangkan jagung 11,02%. Kandungan pati, sorgum 80,42% sedangkan jagung 79,95%. Hanya saja yang membuat tepung sorgum sedikit peminat adalah karena tidak adanya gluten seperti pada tepung terigu. Masyarakat kita sudah terlanjur tercebur dalam nikmatnya elasitisitas terigu, karena tingginya gluten, dan inilah yang membuat adonan mie, dan roti menjadi elastis.
Namun, saat ini di negara2 maju sedang trend gerakan konsumen gluten free diet, yang mana trend konsumsi ini menguak bahwa sebenarnya terlalu banyak makan dari bahan pangan bergluten tidaklah terlalu baik untuk kesehatan, karena dapat menyebabkan celiac desease. Ini merupakan salah satu titik tolak bahwa alternatif tepung yang sehat dapat dikonsumsi adalah tepung sorgum.
Selain gluten free diet, sorgum juga memiliki angka glikemik index yang rendah jika dibanding serealia lainnya. Sebagian varietas, memiliki kadar senyawa fungsional fenol, yaitu tanin, angkanya pun cukup tinggi sekitar 6%. Dan kabar gembiranya beberapa senyawa fenolik sorgum diketahui memiliki aktivitas anti oksidan, anti tumor dan dapat menghambat perkembangan virus sehingga bermanfaat bagi penderita penyakit kanker, jantung dan HIV-1.
Tanaman sorgum yang kini banyak dibudidayakan berasal dari spesies Sorghum bicolor. Dilihat dari segi pemanfaatannya dikenal empat macam tanaman sorgum. Pertama, sorgum biji yang dimanfaatkan bijinya. Kedua, sorgum manis yang dimanfaatkan patinya. Ketiga, sorgum broom yang dimanfaatkan material seratnya. Keempat, sorgum hijauan yang dimanfaatkan biomasanya untuk pakan ternak.
Asal-usul tanaman sorgum
Asal tanaman sorgum diperkirakan dari daerah tropis Afrika. Namun tanaman ini telah beradaptasi sehingga bisa tumbuh di berbagai kondisi iklim mulai dari tropis, sub tropis hingga daerah gurun yang gersang. Sudah sejak lama tanaman sorgum didomestikasi dan dibudidayakan manusia. Bangsa Mesir diketahui telah bercocok tanam sorgum sejak 3000 tahun sebelum masehi.
Botani tanaman sorgum
Klasifikasi tanaman
Kerajaan: Plantae
Divisio: Spermatophyta
Kelas: Monocotyledonae
Suku: Poaceae
Marga: Shorgum
Spesies: Shorgum sp.
Sorgum tergolong ke dalam tanaman serealia, masih satu keluarga dengan gandum. Namun tanaman ini bisa tumbuh di daerah beriklim tropis seperti Indonesia. Ada banyak spesies dan subspesies tanaman sorgum, namun yang banyak dibudidayakan adalah jenis Sorgum bicolor.
Sorgum bicolor belum banyak dibudidayakan di Indonesia. Padahal biji tanaman ini bisa digunakan sebagai pengganti gandum yang tidak bisa tumbuh di Indonesia. Tanaman sorgum memiliki toleransi terhadap kekeringan maupun kondisi basah, dan masih bisa tumbuh baik di lahan yang kurang subur.
Deskripsi tanaman
Batang tanaman sorgum berwarna hijau bentuknya silinder terdiri dari buku-buku. Tanaman sorgum tumbuh tegak, pada beberapa varietas bisa tumbuh hingga 5 meter.
Daunnya panjang dengan ujung meruncing. Bila dilihat sekilas dari penampakannya sangat mirip dengan tanaman jagung. Permukaannya memiliki lapisan lilin yang berfungsi sebagai daya pertahanan terhadap kekeringan.
Budidaya sorgum
Tanaman sorgum bisa tumbuh di daerah beriklim tropis hingga subtropis. Suhu rata-rata yang diperlukan tanaman ini berkisar 23-30°C dengan curah hujan 375-425 mm per tahun. Pada lahan di atas ketinggian 500 meter dari permukaan laut pertumbuhannya akan melambat. Sorgum bisa tumbuh di tanah yang kurang subur. Rentang toleransi terhadap tingkat keasaman tanah juga cukup tinggi mulai dari pH 5 (asam) hingga pH 7,5 (basa).
Perdagangan sorgum
Negara produsen sorgum terbesar di dunia adalah Amerika Serikat diikuti oleh Nigeria, Mexico dan India. Khusus di Nigeria dan India, sorgum dimanfaatkan sebagai bahan makanan. Sementara itu negara pengekspor sorgum terbesar adalah Amerika Serikat, Australia dan Argentina.
Sebagian besar biji sorgum diperdagangkan untuk pakan ternak. Hanya sekitar 6% diantaranya diimpor sebagai bahan pangan oleh negara-negara di Afrika. Pangsa pasar sorgum sendiri hanya sekitar 3% dari pasar serealia. Di pasar global biji sorgum bersaing dengan jagung sebagai bahan baku pakan ternak.
Sorgum mulai menjadi komoditas penting sejak tahun 1980-an. Saat itu perdagangan biji sorgum melonjak dari sekitar 3 juta ton pada tahun 1960-an menjadi 12 juta ton di awal 1980-an. Perdagangan sorgum dunia mencapai puncaknya tahun 1985 yang menyentuh angka 13 juta ton, kemudian menurun tipis hingga dibawah 10 juta ton setelah tahun 1990-an.
Saat ini volume perdagangan sorgum global berfluktuasi sekitar 8-10 juta ton setiap tahunnya. Pada tahun 2012 terjadi kenaikan signifikan perdagangan sorgum akibat dari naiknya permintaan dari Cina. Puncaknya tahun 2010, Cina mengipor lebih dari 10 juta ton sorgum.
Keunggulan Sorgum Untuk Pakan Ternak
Dilansir dari Trubus, Menurut Ir Aldi Djatijanto dari PT Tri Fondasi Indonesia (TFI), pemasok tanaman sorgum untuk pakan ternak sapi, tanpa sorgum kebutuhan pakan per ekor sapi adalah 3 kg jerami dan 8 kg konsentrat per hari. Dengan harga jerami Rp175/kg dan konsentrat Rp1.650/kg, total biaya pakan mencapai Rp13.725/sapi/hari.
Bila memakai sorgum, volume konsentrat bisa turun menjadi 4 kg, sedangkan jumlah sorgum 10 kg/hari. “Sorgum lebih bergizi dibandingkan rumput gajah, rumput taiwan, dan jerami padi. Kandungan protein kasar sorgum mencapai 10 – 12%,” kata Prof Dr Soeranto Human, peneliti sorgum di Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi Badan Tenaga Nuklir Nasional (PATIR BATAN) di Pasarjumat, Jakarta Selatan. Kadar protein itu mendekati nilai kebutuhan protein pada penggemukan sapi sekitar 13%. Dengan harga konsentrat sama dan sorgum Rp350 per kg, maka ongkos pakan per hari menjadi Rp10.100 per sapi atau hemat Rp3.625 per sapi/hari ketimbang pakan jerami.
Protein tinggi
Menurut Aldi sorgum merupakan substitusi jagung yang seringkali sulit diperoleh peternak. Kandungan gizi sorgum hampir sama dengan jagung. “Jagung mengandung 9% protein, 71% karbohidrat, dan 14,2 MJ/kg energi metabolis. Sorgum 9,5% protein, 68% karbohidrat, dan 13,4 MJ/kg energi metabolis,” tambahnya. Dengan begitu wajar bila jumlah konsentrat dalam campuran pakan bisa ditekan lantaran kebutuhan nutrisinya dapat diperoleh dari sorgum.
Sebagai pakan ternak sorgum dapat dimanfaatkan mulai dari biji, batang, dan daunnya. “Namun, sebelum diberikan sorgum perlu dipotong-potong dengan ukuran 2 – 4 cm terlebih dahulu agar sapi mudah mencernanya,” kata Dhanya Rayanti dari TFI yang mengebunkan sorgum dengan total luas 40 ha di Balaraja, Tangerang, dan Serangbaru, Serang, Banten, untuk kebutuhan pakan ternak.
Menurut Ir Suharyono, peneliti nutrisi ternak di PATIR BATAN, sebagai pakan, sorgum dapat diberikan dalam bentuk segar atau berupa silase, yaitu sorgum yang telah diawetkan. Pembuatan silase mudah. “Sorgum dipotong-potong sepanjang 2 – 4 cm lalu dimasukkan ke dalam wadah kedap udara dan difermentasi secara alami,” kata Suharyono.
Pemakain sorgum memiliki keuntungan lain seperti bisa membangkitkan nafsu makan daripada hijauan rumput. Hal itu dibuktikan Ikhlas Yanuar, manajer kebun TFI yang memberikan sorgum ketika berkunjung ke peternakan penggemukan sapi di Serang, Banten. “Saat diberi sorgum sapi lahap memakannya, tetapi saat diganti rumput gajah sapi langsung pergi dan tak mau makan dari tangan saya,” ujar Ikhlas. Itu bukan lantaran sapi kenyang, tapi aroma sorgum lebih wangi dan rasanya juga lebih manis ketimbang rumput.
Tahan kering
Menurut Dr Ningkoesoemaningtyas, peneliti sorgum dari Institut Pertanian Bogor (IPB), sorgum potensial dikembangkan. Ningkoesoemaningtyas menuturkan 18,2-juta hektar dari 25,3-juta hektar lahan di Indonesia berada di daerah marjinal. Lahan marjinal biasanya berupa tanah asam sehingga kadar aluminiumnya tinggi. Aluminium tinggi menyebabkan akar tanaman rusak. Tanah asam juga menyebabkan kandungan fosfor yang tersedia untuk tanaman rendah. Nah, “Sorgum dapat tumbuh baik di lahan marjinal itu sehingga potensial dikembangkan di Indonesia,” tambahnya.
Selain itu sorgum tahan kekeringan. “Jika disamakan dengan binatang, maka sorgum seperti unta,” kata Hudi Hastowo, kepala BATAN, di saat acara seminar sorgum Technology Development From Research to Industry pada awal Maret 2011 di BATAN. Syaratnya, 20 hari pertama ia mendapat cukup air. Bila di kemudian hari tidak ada air, anggota famili Poaceae itu masih dapat tumbuh baik sehingga sorgum cocok menjadi stok pakan saat musim kemarau.
Pada musim kemarau biasanya ketersediaan pakan berkurang, terutama rumput. Maklum, rumput tumbuh baik jika ketersediaan air melimpah seperti pada musim hujan. Sementara sorgum toleran terhadap kekeringan dan genangan air. Dengan beberapa kelebihan itu, sorgum potensial dikembangkan sebagai pakan ternak khususnya untuk penggemukan sapi.
Manfaat Sorgum Untuk Kesehatan