Potensi Onggok Sebagai Pakan Ternak Dan Kandungan Nutrisi (Zat Gizi) Pada Onggok Serta Cara Meningkatkannya Dengan Teknik Fermentasi

Posted by Admin


Teknik dan Cara Fermentasi Onggok Yang Sangat Bermanfaat Untuk Menaikkan Nilai Nutrisi Onggok Terutama Kandungan Protein Kasar

Nutrien utama onggok adalah karbohidrat yaitu 60-70% (Tisnadjaja, 1996), dengan kornponen utama berupa pati (Judoamidjojo et al., 1992). Nutrien lain yang harus diperhitungkan apabila onggok digunakan sebagai bahan pakan unggas adalah tingginya serat kasar, rendahnya protein, rendahnya kecernaan (Puslitbangnak, 1996), dan adanya senyawa anti-nutrisi (Suliantari dan Rahayu, \ I 1990), yang mana anti nutrisi tersebut adalah asam sianida (HCN). Kandungan zat makanan yang dimiliki onggok adalah protein kasar 1,88%, serat kasar 15,62%, lemak kasar 0,25%, abu 1,15%, Ca 0,31%, P 0,05% dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) 81,10% (Wizna et al., 2008b). Onggok mempunyai kandungan protein kasar yang rendah dan serat kasar yang tinggi sehingga terbatas penggunaannya sebagai pakan ternak unggas.
Penggunaan onggok sebagai pakan ternak dihadapkan pada beberapa kendala, antara lain rendahnya nilai gizi (protein) dan masih tingginya kandungan sianida, untuk itu dicari teknik pengolahan yang dapat meningkatkan kandungan nutrisi dan menurunkan kandungan zat antinutrisi pada onggok. Melalui teknologi fermentasi dengan Aspergillus niger diharapkan akan meningkatkan nilai gizi (yang dicarikan antara lain dengan meningkatnya kandungan protein kasar) dan menurunkan kandungan zat antinutrisi HCN pada onggok terolah.
 
Onggok yang berasal dari ubi kayu merupakan hasil ikutan padat dari pengolahan tepung tapioka. Sebagai ampas pati singkong (ubi kayu) yang mengandung banyak karbohidrat, onggok dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi, nilai gizi yang terkandung pada onggok adalah protein 3,6%; lemak 2,3%;air 20,31 % dan abu 4,4%.

Ketersediaanya terus meningkat sejalan dengan meningkatnya produksi tapioka. Hal ini diindikasikan dengan semakin luas areal penanaman dan produksi ubikayu. Luas areal tanaman meningkat dari 1,3 juta hektar dengan produksi 13,3 juta ton pada tahun 1990 menjadi 1.8 juta hektar dengan produksi 19,4 juta ton pada tahun 1995 (BPS,1996). ENIE (1989) melaporkan dari setiap ton ubi kayu akan dihasilkan 250 kg tapioka dan 114 kg onggok.

Limbah industri tapioka terdiri dari dua jenis, yaitu limbah cair dan limbah padat. Limbah cair akan mencemari air, sedangkan limbah padat akan menimbulkan bau yang tidak sedap, apabila tidak ditangani dengan tepat. Onggok tapioka merupakan limbah padat industri tapioka yang berupa ampas hasil ekstraksi dari pengolahan tepung tapioka. Dalam industri tapioka dihasilkan 75% onggok tapioka dari total bahan baku yang digunakan

Jumlah onggok tapioka yang dihasilkan dari industri kecil dengan bahan baku lima kg per hari menghasilkan onggok tapioka sebanyak 3,75 kg. Sedangkan industri menengah dengan bahan baku rata-rata sebanyak 50 kg per hari menghasilkan 45 kg onggok tapioka dan industri besar dengan bahan baku 800 kg per hari dapat menghasilkan onggok tapioka sebanyak 650 kg. Dari data tersebut terlihat bahwa jumlah onggok yang dihasilkan dari industri tepung tapioka sangat besar.

Dilaporkan pula bahwa onggok tersebut merniliki potensi sebagai polutan di daerah sekitar pabrik. Penggunaan onggok dalam penyusunan pakanternak sangat terbatas, terutama untuk monogastrik. Hal tersebut disebabkan kandungan protein onggok cukup rendah kurang dari 5%) dan disertai dengan kandungan serat kasar yang tinggi (lebib dari 35%) (GRACE, 1997).


Proses bioteknologi dengan menggunakan teknik fermentasi padat mempunyai prospek untuk meningkatkan mutu gizi dari bahan-bahan yang bermutu rendah (KOMPIANG et al., 1994). KOMPIANG et al. (1994) danDAUBRASE et al.(1987) melaporkan bahwa cassapro (cassava berprotein tinggi), produk fermentasi dari umbi ubikayu, memiliki kandungan proteinnya 18-42%, lebih tinggi dari bahan asalnya ubikayu, yang hanya mencapai 3%.
loading...
Pada penggunaan rendah (5%), disamping sebagai sumber protein, cassapro juga dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pakan (kompiang et al.,1994), yang diperkirakan sebagai akibat terbentuknya berbagai enzim selama proses fermentasi berlangsung. Telah dilaporkan bahwa, Aspergillus niger, kapang yang digunakan dalam proses fernientasi cassapro menghasilkan berbagai enzim seperti antara lain amilase, selulase, dan fitase (SANIet al.,1992; PURWADARIA et al.,1997: SUSANA et al., 2000).

Untnk mengatasi masalah yang disebabkan oleh onggok dan pada saat yang sama juga me~iingkatkan penyediaan bahan baku pakan yang bermutu, perlu dilakukan penelitian peningkatan mum, terutama kandungan protein onggok dengan proses bioteknologi melalui fermentasi substrat padat dan pemanfaatannya untuk ternak unggas.

Komposisi Kimia Onggok

Serat kasar merupakan nutrien khas penyusun dinding sel tanaman, yang sebagian besar adalah selulosa. Selulosa adalah polimer D-glukosa dengan ikatan β-1,4 glikosidik yang tidak dapat dicerna oleh unggas (Mulyono, at al., 2009).

Nutrien utama onggok adalah karbohidrat yaitu 60-70% (Tisnadjaja, 1996), dengan kornponen utama berupa pati (Judoamidjojo et al., 1992). Nutrien lain yang harus diperhitungkan apabila onggok digunakan sebagai bahan pakan unggas adalah tingginya serat kasar, rendahnya protein, rendahnya kecernaan (Puslitbangnak, 1996), dan adanya senyawa anti-nutrisi (Suliantari dan Rahayu, \ I 1990), yang mana anti nutrisi tersebut adalah asam sianida (HCN).

Kandungan zat makanan yang dimiliki onggok adalah protein kasar 1,88%, serat kasar 15,62%, lemak kasar 0,25%, abu 1,15%, Ca 0,31%, P 0,05% dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) 81,10% (Wizna et al., 2008b).

Onggok mempunyai kandungan protein kasar yang rendah dan serat kasar yang tinggi sehingga terbatas penggunaannya sebagai pakan ternak unggas.

Teknik Dan Cara Fermentasi Onggok

Menurut Supriyati (2003), sebelum difermentasi onggok tersebut harus dikeringkan terlebih dahulu, sampai kadar airnya maksimal 20% dan selanjutnya digiling.
  • Untuk setiap 10 kg bahan baku pakan dibutuhkan 80 gram kapang A. niger dan 584,4 gram campuran mineral anorganik. 
  • Sedang untuk preparasinya adalah sebagai berikut: 10 kg onggok kering giling dimasukkan ke dalam baskom besar (ukuran 50 kg).  
  • Selanjutnya ditambah 584,4 gram campuran mineral dan diaduk sampai rata. 
  • Kemudian ditambah air hangat sebanyak delapan liter, diaduk rata dan dibiarkan selama beberapa menit. 
  • Setelah agak dingin ditambahkan 80 gram A. niger dan diaduk kembali. 
  • Setelah rata dipindahkan ke dalam baki plastik dan ditutup. Fermentasi berlangsung selama empat hari. 
  • Setelah terbentuk miselium yang terlihat seperti fermentasi tempe, maka onggok terfermentasi dipotong-potong, diremas-remas dan dikeringkan dalam oven pada suhu 600C dan selanjutnya digiling.

Komposisi Gizi Onggok Setelah Difermentasi

Onggok yang telah difermentasi dianalisa kandungan nutriennya, antara onggok dan onggok terfermentasi berbeda. Yaitu, kandungan protein kasar dan protein sejati, masing-masing meningkat dari 2,2 menjadi 18,4%. Sedang karbohidratnya menurun dari 51,8 menjadi 36,2% Sementara kandungan serat kasar onggok terfermentasi cenderung menurun. (Tabel1). Hal ini terjadi karena selama fermentasi, kapang A. niger menggunakan zat gizi (terutama karbohidrat) untuk pertumbuhannya. Dan kandungan protein meningkat dari 2,2 menjadi 18,4%, dengan menggunakan urea dan ammonium sulfat sebagai sumber nitrogen.

Tabel 1. Komposisi gizi onggok

Gizi               Tanpa ferementasi (%BK)        Fermentasi (% BK)

Protein kasar     2,2                                       18,6

Karbohidrat      51,8                                       36,2

Abu                 2,4                                         2,6

Serat Kasar      10,8                                       10,46

Hasil penelitian Tabrany S, dkk menunjukkan bahwa fermentasi onggok dengan Aspergillus niger sampai 4 minggu secara statistik sangat nyata.

Onggok tapioka merupakan limbah industri pangan yang jumlahnya sangat banyak dan akan menjadi polusi bila tidak segera ditangani. Oleh karena itu diperlukan usaha untuk memanfaatkan onggok tapioka dengan mengolahnya kembali menjadi suatu produk, sehingga pencemaran lingkungan dapat berkurang dan nilai guna onggok dapat meningkat. Pengolahan onggok tapioka menjadi minyak merupakan suatu cara alternatif penanganan limbah secara efektif, karena dapat mengurangi pencemaran lingkungan dan meningkatkan nilai guna serta nilai ekonomis onggok.

Onggok di Lampung banyak digunakan sebagai bahan pakan ternak atau dijual ke industri / pabrik obat nyamuk dan sebagai bahan pembuat saos. untuk saat ini permintaan tepung onggok sangat tinggi, hal ini dapat dilihat sulitnya mendapatkan bahan baku onggok untuk diolah.

Diolah dari berbagai sumber

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

1001 Cara dan Tips Updated at: 08:47
loading...